Gambling vs Trading = Beti

Tergelitik dengan pernyataan salah satu anggota group komunitas investor yang menyatakan bahwa option adalah salah bentuk gambling, saya mencoba membahas sedikit faktor gambling dalam trading

Jika menelisik arti kata gambling di Google, maka gambling (gamble) diartikan sebagai permainan kesempatan untuk sejumlah uang atau mengambil aksi beresiko untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Lalu apa bedanya trading dengan gambling? Bukankah trading juga merupakan permainan kesempatan (dengan mengambil resiko) untuk mendapatkan keuntungan ?

Disinilah masalahnya, gambling dan trading dan investasi hanya beda tipis (aka beti).

Dalam judi, kemungkinan menang atau kalah adalah 50:50, jika tidak menang maka ya sudah dipastikan kalah. Menang atau kalah sepenuhnya diserahkan pada nasib. Namun ada sedikit yang berbeda dengan trading dimana kita berusaha meningkatkan kemungkinan lebih dari 50%, yaitu dengan cara melakukan analisa awal.

Dengan meningkatkan kemungkinan menang lebih dari 50% maka kemungkinan menderita kekalahan sudah menjadi lebih kecil (misalnya 40%). Maka trading yang kita lakukan tidak tergolong sebagai gambling lagi, tapi ‘hanya’ kegiatan mengambil resiko (yaitu sebesar 40%) untuk mendapatkan keuntungan –> warning: ini hanyalah permainan kata-kata.

Benar, trading tanpa analisa sama dengan gambling. Tapi trading dengan analisa awal adalah kegiatan mengambil resiko untuk mendapat keuntungan. Lantas apakah kegiatan mengambil resiko adalah sesuatu yang buruk?

Dalam dunia bisnis, untuk mendapatkan keuntungan tentu harus dilakukan dengan kesiapan untuk menanggung resiko. Misalnya kita hendak berjualan mie ayam, maka kita perlu menyiapkan sejumlah modal untuk membeli bahan baku, menyewa tempat. Modal yang kita siapkan tersebut tentu dalam resiko, yaitu resiko mie ayam yang kita jual tidak laku atau tempat yang telah kita sewa sepi atau malah digusur oleh pemerintah.

Namun kita bukanlah manusia bodoh yang mau menerima resiko tersebut tanpa berpikir, tentu kita berusaha memperkecil resiko dengan berbagai cara, antara lain: menyiapkan resep yang mumpuni, memilih tempat usaha ditempat yang ramai dan bukan jalur hijau, dsb.

Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan kegiatan pengambil resiko merupakan hal ‘biasa’ dan bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Tanpa resiko tentu kita tidak bisa berjualan mie ayam (betul tidak?).

Kembali ke dalam hal trading, maka dapat disimpulkan trading vs gambling itu hanya beda tipis. Ya itu apakah kita melakukan analisa dengan benar (kemungkinan profit > kemungkinan loss) ataukah hanya sekedar ikut-ikutan gosip (kemungkinan loss > kemungkinan profit).

Bagimana dengan Forex, Option, Cryptocurrency ?

Baik Forex, option dan cryptocurrency hanyalah sebagai instrumen (media) trading. Tidak ada yang salah dengan forex, option dan cryptocurrency karena prinsip tradingnya tetap sama dengan trading saham. Jika trading tanpa analisa maka sama dengan gambling. Namun jika sudah dilakukan analisa dan perhitungan matang maka itu bukanlah gambling.

Mindset

Saham Gorengan = Judi

Tergelitik dengan pernyataan salah satu anggota grup WA yang mengatakan bahwa bermain saham gorengan sama dengan judi aka gambling.

Saham gorengan, atau yang istilah kerennya disebut saham glory merupakan saham yang memiliki volatile tinggi, dimana harga dapat bergerak naik dan turun dengan cepat dalam satu hari.

Yang menjadi permasalahan apakah benar membeli saham dengan volatile tinggi merupakan judi?

Untuk menjawabnya tentu perlu membedakan dulu antara trading dan gambling. Antara trading dan gambling (saham) sekilas tampak sama, tapi terdapat perbedaan signifikan dalam hal mental state. Dalam trading, semua resiko dan reward sudah diukur secara cermat, sedang dalam gambling resiko dan reward tidak diperhitungkan dan sepenuhnya berserah pada nasib (baik).

Lalu apakah dengan membeli bluechip, bukan menjadi salah satu bentuk gambling juga? Belum tentu, jika bluechip yang dipilih tidak diperiksa dengan seksama (dipilih karena ber-atribut bluechip), maka itu juga merupakan satu bentuk gambling, dimana modal tergerus habis (contoh: membeli BUMI pada masa jayanya).

Lantas apakah membeli saham gorengan merupakan salah satu bentuk judi ? Bisa iya dan bisa tidak. Jika membeli hanya karena saham tersebut sedang ramai ditransaksikan pada hari tersebut, tapa mengetahui support dan resistance saham tersebut, maka hal tersebut merupakan judi. Namun jika segala upaya sudah dilakukan untuk menghitung risk dan reward yang didapatkan dengan membuka posisi pada saham gorengan tersebut, itu merupakan salah satu bentuk trading (mengikuti tren yang kuat).

Konsep

Mengenal Altman Z-Score

Altman Z-Score adalah sistem skoring untuk menilai kemampuan suatu perusahaan dalam menyelesaikan utang-utangnya, apakah sudah mendekati kebangkrutan atau belum.

Z-Score dicetuskan pertama kali oleh Edrward L. Altman pada tahun 1968 setelah meneliti 33 perusahaan dalam bursa saham di Amerika yang mengajukan kebangkrutan antara tahun 1945-1965.

Z-Score dirumuskan sebagai berikut:

Z = 0.012X1 + 0.014X2 + 0.033X3 + 0.006X4 + 0.999X5

Dimana

  • X1 = working capital / total assets
  • X2 = retained earning / total assets
  • X3 = earnings before interest and taxes / total assets
  • X4 = market value of equity / book value of total liabiliries
  • X5 = sales / total sales

Tampak Z-score merupakan persamaan linear dengan 5 variabel berbeda yang memiliki koefisiennya masing-masing. Sehingga dapat disimpulkan Z-score menggunakan pendekatan ‘curve fitting’ untuk mendekati model dari sampel 33 perusahan tersebut, sehingga kita bisa mengharapkan bahwa akurasinya akan 100% akurat. Kita hanya dapat menggunakan altman z-score ini sebagai salah satu tool dalam memprediksi kesehatan keuangan perusahaan, meskipun Altman sendiri mengklaim akruasi sistem skoringnya mencapai 94%.

Altman menggunakan batasan 2.675 sebagai nilai ambang batas sebuah perusahaan menuju kebangkrutan atau tidak, tapi nilai tersebut kemudian direvisi pada tahun 1969 menjadi 1,81 setelah Altman menggunakan lebih banyak sampel dalam penelitiannya.

Penerapan Z-score terbatas pada perusaahan – perusahaan berbasis manufacture atau perusahaan dalam sektor lain yang padat modal (contoh: pertambangan).

Konsep

Mengenal Piotroski F-Score System

Profesor Joseph Piotroski adalah seorang pakar keuangan dan akutansi dari University of Chicago yang menulis sebuah paper yang berjudul “Value Investing: The Use of Historical Financial Statement Information to Separate Winners from Losers”.

Paper yang dibuat oleh Prof. Piotroski ini mengunakan analisa statistik untuk membedakan antara saham mana yang cocok untuk di beli (aka invest) dan sebaiknya dihindari berdasarkan ‘value’ nya.

Ada 9 tes dalam sistem Piotroski, yang akan menghasilkan score tertinggi 9 untuk setiap saham.

Berikut 9 tes yang terdapat dalam sistem Piotroski (tulisan dalam cetak miring berisi value yang ingin dicari dari tes tersebut):

  1. Apakah return on asset (ROA) dari tahun terakhir positif ? Apakah perusahan berhasil mendapatkan laba dalam tahun terakhir?
  2. Apakah operation cash flow tahun terakhir positif ? Apakah operasional perusahan benar-benar menghasilkan pertambahan uang kas?
  3. Apakah ROA tahun terakhir > ROA 2 tahun terakhir ? Apakah peningkatan pendapatan lebih besar dibanding pendapatan asset dalam 2 tahun terakhir.
  4. Apakah operation cash flow tahun terakhir > laba sebelum pajak (EBT) tahun terakhir? Apakah cash flow perusahaan bertumbuh dalam 2 tahun terakhir.
  5. Apakah rasio utang jangka panjang terhadap asset tahun terakhir < rasio utang jangka panjang terhadap asset 2 tahun terakhir? Apakah ada penurunan utang perusahaan ?
  6. Apakah current ratio (asset/kewajiban) tahun terakhir > current ratio 2 tahun terakhir ? Apakah pertumbuhan asset lebih cepat daripada pertumbuhan utang ?
  7. Apakah jumlah rata-rata saham beredar tahun terakhir <= jumlah rata-rata saham beredar 2 tahun sebelumnya? Apakah ada penerbitan saham baru (right issue) ?
  8. Apakah gross margin tahun terakhir > gross margin 2 tahun terakhir? Apakah keuntungan kotor perusahaan mengalami pertumbuhan.
  9. Apakah asset turnover (pendapatan/net asset) tahun terakhir > asset turnover 2 tahun terakhir? Apakah pertumbuhan pendapatan lebih cepat dari pertumbuhan aset ?

Terdapat 6 dari 9 tes dalam Piotroski tes yang berorientasi pada  growth (pertumbuhan pendapatan dan pengurangan utang). Jika suatu perusaahan tidak behasil mencapai skor minimal 6 dalam test Piotroski hampir dapat dipastikan perusahaan tersebut sedang mengalami stagnasi atau bahkan penurunan dalam bisnisnya.

Oleh karena itu interpretasi dari F-Score Piotroski ini adalah mencari perusahan-perusahaan yang memiliki score minimal 6 sebagai perusahaan berfundamental baik.

Berikut contoh F-Score untuk saham di IDX (November 2019)

  • Score 9: CPIN, DMAS, FASW, PGAS, TOTO
  • Score 8: ANTM,ASII, ASSA, GGRM, BIRD,MAIN, PWON, UNTR
  • Score 7: ACES, BMTR, INDY, INDS, NRCA, PTBA

Catatan: Piotroski F-Score tidak dapat diaplikasikan pada sektor industri keuangan. Karena faktor gross margin dan asset turnover tidak sesuai untuk industri keuangan.

Mindset

Beli Barang Dibayari Hasil dari Trading Saham, Apa Mungkin?

Sebagai trader sudah berkali kali meraup keuntungan di bursa saham, tentu pernah terlintas untuk membeli barang-barang mewah dengan menggunakan hasil trading saham anda. Pertanyaannya apakah mungkin?

Secara matematis tentu hal itu mungkin, sebagai contoh, anda ingin membeli rumah atau apartment seharga 1 milyar jika dicicil selama 15 tahun, anda hanya membutuhkan “iuran” bulanan sebesar 7 juta. Andaikata modal trading anda sebesar 700 juta, maka anda hanya mendapatkan keuntungan 1% saja setiap bulannya untuk menikmati rumah tersebut.

Hitungan diatas bagi kebanyakan orang tidak teralu muluk dan akan sangat mudah dicapai. Namun ada faktor lain yang menyebabkan hitungan tersebut bisa jadi sangat sulit dicapai, yaitu kesiapan mental anda. Seperti seorang atlit yang tidak diunggulkan tiba-tiba menjadi juara, atau seorang atlit yang diunggulkan namun malah gagal di awal-awal pertandingan, semua itu terakit dengan mental.

Dengan mematok target sebesar 1% setiap bulannya untuk memenuhi “cicilan” anda, tentu anda telah menambah beban mental tersendiri, akibatnya anda akan cenderung terburu – buru dalam mengambil keputusan, yang mungkin malah mengakibatkan performance trading anda menurun jika dibandingkan saat tidak ada ‘beban’ atau ‘target’ yang ingin dicapai.

 

Konsep

5 Alasan Perlunya Perampingan Portfolio Saat Downtren

Seringkali kita mendengar trader yang sudah berpengalaman melakukan perampingan (menjual sebagian saham) portfolio saat bursa bergejolak tak menentu.

Ya perampingan portfolio saat downtren atau bursa bergejolak wajib hukumnya untuk dilakukan, berikut beberapa alasannya

  1. Posisi = Resiko, memiliki posisi saat bursa bergejolak sama dengan menanggung resiko. Jika sewaktu-waktu terjadi selling frenzy maka modal trading anda menjadi terancam akan berkurang. Alasan ini sesuai dengan prinsip “selamatkan modal terlebih dahulu”
  2. Lebih mudah average down, seandainya anda berkeinginan untuk menunggu saat gejolak bursa saham berlalu untuk melakukan average down, memiliki hanya sedikit saham (posisi) tentu akan lebih mudah dilakukan ketimbang anda memiliki banyak posisi (dalam hal kebutuhan modal).
  3. Mengurangi tekanan psikologis, melihat bursa saham dalam keadaan downtren tentu memberikan tekanan psikologis tersendiri, terutama bagi mereka yang sehari-hari memantau bursa. Dengan memiliki saham dalam portfolio tentu akan memberikan sedikit kelegaan bagi trader (sudah merasa beruntung karena sudah berhasil mengurangi posisinya di bursa).
  4. Modal dapat digunakan untuk keperluan lain, ketimbang menunggu di salah satu saham yang downtren, tentu lebih baik jika modal dapat diputar di tempat lain. Bursa saham bukanlah satu-satunya tempat untuk mengembangbiakan uang, masih terdapat berbagai tempat lain seperti peer-to-peer lending yang sedang naik daun.
  5. Bisa Liburan, ya daripada harus mengamati bursa saham yang sedang downtren parah, mengapa tidak jalan-jalan sekedar refreshing. Untuk apa memaksakan diri melakukan trading jika kondisi tidak kondusif.
Mindset

Kecanduan Trading

Beberapa hari belakangan, bursa saham diwarnai dengan berbagai sentimen negatif akibat dari semakin melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, berbagai saham rontok diterjang sentimen negatif, kondusi semakin tidak kondusif dengan berbagai isu eksternal seperti isu perang dagang, kebangkrutan berbagai negara seperti Venezuela, Argentina, Turki dan Iran.

Trader yang cerdas tentu akan menahan diri untuk masuk membuka posisi di bursa, sambil melakukan wait-and-see, daripada mempertaruhkan modal dalam kondisi yang sangat sulit untuk di prediksi. Yang unik adalah adalah segelintir orang yang tetap berusaha mencari-cari saham top pick untuk di beli. Gila ? Mungkin. Namun lebih tepat sepertinya disebut kecanduan trading.

“Penyakit’ kecanduan trading, ditandai dengan tidak bisa diam dan mengamati bursa sejenak tanpa melakukan trading. Seperti perokok yang tidak bisa melewatkan hari tanpa meghisap sebatang rokok, trader yang sudah kecanduan merasa wajib dan harus untuk membuka posisi dan menutup posisi setiap harinya, jika tidak mereka merasa bosan.

Walaupun mereka sadar bursa saham dalam kondisi yang tidak kondusif, tetap saja mereka berusaha untuk melakukan trading. Apakah anda salah satunya?

Mindset

Jago Kasih Rekomendasi Kok Masih Nyales?

Pernahkah anda menemui seseorang yang tampaknya fasih memberikan rekomendasi saham, dan tampak mengetahui luar dalam mengenai bursa saham dan sering meng-klaim keberhasilannya dalam menebak (aka menerka) pergerakan harga saham secara tepat? Menarik sekali memang jika orang tersebut sangat “ahli” dalam bursa saham, namun seringkali orang tersebut kemudian menjual atau menawarkan paket rekomendasi secara berbayar atau paling tidak menawarkan pembukaan rekening saham di sekuritas tertentu (sales sekuritas)

Atau ada tipe lain yaitu, orang yang menawarkan untuk mengelola uang anda untuk di tradingkan di bursa saham dengan iming-iming return tertentu. Populasi yang seperti ini lebih banyak, dan bukan hanya di bursa saham, banyak perusahaan Futures merekrut anak-anak muda untuk menjadi ‘sales’ model begini dengan modal ilmu yang masih pas-pasan. Tidak percaya? Coba saja bergabung ke grup saham di WA atau Line, pasti ada saja yang mencoba menawarkan trading emas, dan berbagai komoditi lain.

Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, jika memang mereka benar-benar mampu dan ahli melakukan trading, kenapa mereka masih harus ‘nyales’ atau jualan jasa mereka? Bukankah jika mereka sudah dapat menerka dengan akurasi 80% saja, mereka sudah dapat melipat gandakan kekayaannya.

Dalam hitungan sederhana jika modal sebesar 1 juta, dan mereka bisa mendapatkan keuntungan sebesar 100% setiap kali tradingnya, hasil yang didapat adalah 1024 x modal. Mungkin jika gain 100% teralu sulit, kita bisa coba hitung gain 25% dalam 24x (satu bulan) trading, menghasilkan  sekitar 211 x modal.

Bukankah dengan perhitungan kasar tersebut, sudah layak mereka untuk santai-santai di resort Maldives, sambil melakukan trading melalui handphone  dengan santainya. So, kenapa harus cari client lagi ? (Apalagi sampai harus spamming di forum dan grup saham)

Itulah pertanyaan logis, yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya, mungkin jika pembaca ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan terebut, boleh posting komentar dibawah.

Dulu, saya pernah menemukan jawaban terhadap pertanyan  tersebut di sebuah forum, kurang lebih sebagai berikut “jika ilmu (trading) disebarkan maka akan semakin banyak orang yang menggunakannya dan ilmu tersebut menjadi self-fulfillment”. Menarik, tapi kok rasanya aneh ya, benar jika ilmu disebarkan tentu menjadi semakin bermanfaat. Tapi dalam trading, rasanya tidak ada yang mau buka kartu bagaimana mereka membuat sistem trading. Penulis buku pun, pasti akan menyembunyikan detil dari sistem mereka, karena jika semua bisa mereplikasi sistem trading mereka, maka akan menjadi bumerang bagi pembuat sistem trading tersebut (bisa dikerjain oleh bandar).

Atau jawaban yang lebih “mulia”, yaitu untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat Indonesia. Terus terang jawaban ini lebih masuk akal, tapi rasanya agak aneh bagi saya. Jika benar tujuannya untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat, kenapa harus bayar jutaan? dan mempromosikan bisnis sendiri ? Kenapa tidak membuat video-video di youtube, atau seminar di kampus-kampus yang relatif murah atau bahkan gratis ? Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, bagaimana mungkin orang tersebut bisa serius melakukan trading, jika setiap harinya sibuk ‘ngurusin promosi saham’ ke masyarakat (a.k.a cari client) ?

Secara jujur saya lebih hormat, kepada orang-orang yang memberikan rekomendasi tapi tidak mengkomersialkannya. Mengapa? Ya, karena mereka sudah merasa cukup mendapatkan ‘hasil’ dari penerapan ilmu mereka di pasar, sehingga tidak perlu lagi membuat program rekomendasi atau pelatihan.