Month: November 2018

Recent Posts
Konsep

Mengenal Altman Z-Score

Altman Z-Score adalah sistem skoring untuk menilai kemampuan suatu perusahaan dalam menyelesaikan utang-utangnya, apakah sudah mendekati kebangkrutan atau belum.

Z-Score dicetuskan pertama kali oleh Edrward L. Altman pada tahun 1968 setelah meneliti 33 perusahaan dalam bursa saham di Amerika yang mengajukan kebangkrutan antara tahun 1945-1965.

Z-Score dirumuskan sebagai berikut:

Z = 0.012X1 + 0.014X2 + 0.033X3 + 0.006X4 + 0.999X5

Dimana

  • X1 = working capital / total assets
  • X2 = retained earning / total assets
  • X3 = earnings before interest and taxes / total assets
  • X4 = market value of equity / book value of total liabiliries
  • X5 = sales / total sales

Tampak Z-score merupakan persamaan linear dengan 5 variabel berbeda yang memiliki koefisiennya masing-masing. Sehingga dapat disimpulkan Z-score menggunakan pendekatan ‘curve fitting’ untuk mendekati model dari sampel 33 perusahan tersebut, sehingga kita bisa mengharapkan bahwa akurasinya akan 100% akurat. Kita hanya dapat menggunakan altman z-score ini sebagai salah satu tool dalam memprediksi kesehatan keuangan perusahaan, meskipun Altman sendiri mengklaim akruasi sistem skoringnya mencapai 94%.

Altman menggunakan batasan 2.675 sebagai nilai ambang batas sebuah perusahaan menuju kebangkrutan atau tidak, tapi nilai tersebut kemudian direvisi pada tahun 1969 menjadi 1,81 setelah Altman menggunakan lebih banyak sampel dalam penelitiannya.

Penerapan Z-score terbatas pada perusaahan – perusahaan berbasis manufacture atau perusahaan dalam sektor lain yang padat modal (contoh: pertambangan).

Konsep

Mengenal Piotroski F-Score System

Profesor Joseph Piotroski adalah seorang pakar keuangan dan akutansi dari University of Chicago yang menulis sebuah paper yang berjudul “Value Investing: The Use of Historical Financial Statement Information to Separate Winners from Losers”.

Paper yang dibuat oleh Prof. Piotroski ini mengunakan analisa statistik untuk membedakan antara saham mana yang cocok untuk di beli (aka invest) dan sebaiknya dihindari berdasarkan ‘value’ nya.

Ada 9 tes dalam sistem Piotroski, yang akan menghasilkan score tertinggi 9 untuk setiap saham.

Berikut 9 tes yang terdapat dalam sistem Piotroski (tulisan dalam cetak miring berisi value yang ingin dicari dari tes tersebut):

  1. Apakah return on asset (ROA) dari tahun terakhir positif ? Apakah perusahan berhasil mendapatkan laba dalam tahun terakhir?
  2. Apakah operation cash flow tahun terakhir positif ? Apakah operasional perusahan benar-benar menghasilkan pertambahan uang kas?
  3. Apakah ROA tahun terakhir > ROA 2 tahun terakhir ? Apakah peningkatan pendapatan lebih besar dibanding pendapatan asset dalam 2 tahun terakhir.
  4. Apakah operation cash flow tahun terakhir > laba sebelum pajak (EBT) tahun terakhir? Apakah cash flow perusahaan bertumbuh dalam 2 tahun terakhir.
  5. Apakah rasio utang jangka panjang terhadap asset tahun terakhir < rasio utang jangka panjang terhadap asset 2 tahun terakhir? Apakah ada penurunan utang perusahaan ?
  6. Apakah current ratio (asset/kewajiban) tahun terakhir > current ratio 2 tahun terakhir ? Apakah pertumbuhan asset lebih cepat daripada pertumbuhan utang ?
  7. Apakah jumlah rata-rata saham beredar tahun terakhir <= jumlah rata-rata saham beredar 2 tahun sebelumnya? Apakah ada penerbitan saham baru (right issue) ?
  8. Apakah gross margin tahun terakhir > gross margin 2 tahun terakhir? Apakah keuntungan kotor perusahaan mengalami pertumbuhan.
  9. Apakah asset turnover (pendapatan/net asset) tahun terakhir > asset turnover 2 tahun terakhir? Apakah pertumbuhan pendapatan lebih cepat dari pertumbuhan aset ?

Terdapat 6 dari 9 tes dalam Piotroski tes yang berorientasi pada  growth (pertumbuhan pendapatan dan pengurangan utang). Jika suatu perusaahan tidak behasil mencapai skor minimal 6 dalam test Piotroski hampir dapat dipastikan perusahaan tersebut sedang mengalami stagnasi atau bahkan penurunan dalam bisnisnya.

Oleh karena itu interpretasi dari F-Score Piotroski ini adalah mencari perusahan-perusahaan yang memiliki score minimal 6 sebagai perusahaan berfundamental baik.

Berikut contoh F-Score untuk saham di IDX (November 2019)

  • Score 9: CPIN, DMAS, FASW, PGAS, TOTO
  • Score 8: ANTM,ASII, ASSA, GGRM, BIRD,MAIN, PWON, UNTR
  • Score 7: ACES, BMTR, INDY, INDS, NRCA, PTBA

Catatan: Piotroski F-Score tidak dapat diaplikasikan pada sektor industri keuangan. Karena faktor gross margin dan asset turnover tidak sesuai untuk industri keuangan.