Category: Mindset

Recent Posts
Mindset

Beli Barang Dibayari Hasil dari Trading Saham, Apa Mungkin?

Sebagai trader sudah berkali kali meraup keuntungan di bursa saham, tentu pernah terlintas untuk membeli barang-barang mewah dengan menggunakan hasil trading saham anda. Pertanyaannya apakah mungkin?

Secara matematis tentu hal itu mungkin, sebagai contoh, anda ingin membeli rumah atau apartment seharga 1 milyar jika dicicil selama 15 tahun, anda hanya membutuhkan “iuran” bulanan sebesar 7 juta. Andaikata modal trading anda sebesar 700 juta, maka anda hanya mendapatkan keuntungan 1% saja setiap bulannya untuk menikmati rumah tersebut.

Hitungan diatas bagi kebanyakan orang tidak teralu muluk dan akan sangat mudah dicapai. Namun ada faktor lain yang menyebabkan hitungan tersebut bisa jadi sangat sulit dicapai, yaitu kesiapan mental anda. Seperti seorang atlit yang tidak diunggulkan tiba-tiba menjadi juara, atau seorang atlit yang diunggulkan namun malah gagal di awal-awal pertandingan, semua itu terakit dengan mental.

Dengan mematok target sebesar 1% setiap bulannya untuk memenuhi “cicilan” anda, tentu anda telah menambah beban mental tersendiri, akibatnya anda akan cenderung terburu – buru dalam mengambil keputusan, yang mungkin malah mengakibatkan performance trading anda menurun jika dibandingkan saat tidak ada ‘beban’ atau ‘target’ yang ingin dicapai.

 

Mindset

Kecanduan Trading

Beberapa hari belakangan, bursa saham diwarnai dengan berbagai sentimen negatif akibat dari semakin melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, berbagai saham rontok diterjang sentimen negatif, kondusi semakin tidak kondusif dengan berbagai isu eksternal seperti isu perang dagang, kebangkrutan berbagai negara seperti Venezuela, Argentina, Turki dan Iran.

Trader yang cerdas tentu akan menahan diri untuk masuk membuka posisi di bursa, sambil melakukan wait-and-see, daripada mempertaruhkan modal dalam kondisi yang sangat sulit untuk di prediksi. Yang unik adalah adalah segelintir orang yang tetap berusaha mencari-cari saham top pick untuk di beli. Gila ? Mungkin. Namun lebih tepat sepertinya disebut kecanduan trading.

“Penyakit’ kecanduan trading, ditandai dengan tidak bisa diam dan mengamati bursa sejenak tanpa melakukan trading. Seperti perokok yang tidak bisa melewatkan hari tanpa meghisap sebatang rokok, trader yang sudah kecanduan merasa wajib dan harus untuk membuka posisi dan menutup posisi setiap harinya, jika tidak mereka merasa bosan.

Walaupun mereka sadar bursa saham dalam kondisi yang tidak kondusif, tetap saja mereka berusaha untuk melakukan trading. Apakah anda salah satunya?

Mindset

Jago Kasih Rekomendasi Kok Masih Nyales?

Pernahkah anda menemui seseorang yang tampaknya fasih memberikan rekomendasi saham, dan tampak mengetahui luar dalam mengenai bursa saham dan sering meng-klaim keberhasilannya dalam menebak (aka menerka) pergerakan harga saham secara tepat? Menarik sekali memang jika orang tersebut sangat “ahli” dalam bursa saham, namun seringkali orang tersebut kemudian menjual atau menawarkan paket rekomendasi secara berbayar atau paling tidak menawarkan pembukaan rekening saham di sekuritas tertentu (sales sekuritas)

Atau ada tipe lain yaitu, orang yang menawarkan untuk mengelola uang anda untuk di tradingkan di bursa saham dengan iming-iming return tertentu. Populasi yang seperti ini lebih banyak, dan bukan hanya di bursa saham, banyak perusahaan Futures merekrut anak-anak muda untuk menjadi ‘sales’ model begini dengan modal ilmu yang masih pas-pasan. Tidak percaya? Coba saja bergabung ke grup saham di WA atau Line, pasti ada saja yang mencoba menawarkan trading emas, dan berbagai komoditi lain.

Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, jika memang mereka benar-benar mampu dan ahli melakukan trading, kenapa mereka masih harus ‘nyales’ atau jualan jasa mereka? Bukankah jika mereka sudah dapat menerka dengan akurasi 80% saja, mereka sudah dapat melipat gandakan kekayaannya.

Dalam hitungan sederhana jika modal sebesar 1 juta, dan mereka bisa mendapatkan keuntungan sebesar 100% setiap kali tradingnya, hasil yang didapat adalah 1024 x modal. Mungkin jika gain 100% teralu sulit, kita bisa coba hitung gain 25% dalam 24x (satu bulan) trading, menghasilkan  sekitar 211 x modal.

Bukankah dengan perhitungan kasar tersebut, sudah layak mereka untuk santai-santai di resort Maldives, sambil melakukan trading melalui handphone  dengan santainya. So, kenapa harus cari client lagi ? (Apalagi sampai harus spamming di forum dan grup saham)

Itulah pertanyaan logis, yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya, mungkin jika pembaca ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan terebut, boleh posting komentar dibawah.

Dulu, saya pernah menemukan jawaban terhadap pertanyan  tersebut di sebuah forum, kurang lebih sebagai berikut “jika ilmu (trading) disebarkan maka akan semakin banyak orang yang menggunakannya dan ilmu tersebut menjadi self-fulfillment”. Menarik, tapi kok rasanya aneh ya, benar jika ilmu disebarkan tentu menjadi semakin bermanfaat. Tapi dalam trading, rasanya tidak ada yang mau buka kartu bagaimana mereka membuat sistem trading. Penulis buku pun, pasti akan menyembunyikan detil dari sistem mereka, karena jika semua bisa mereplikasi sistem trading mereka, maka akan menjadi bumerang bagi pembuat sistem trading tersebut (bisa dikerjain oleh bandar).

Atau jawaban yang lebih “mulia”, yaitu untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat Indonesia. Terus terang jawaban ini lebih masuk akal, tapi rasanya agak aneh bagi saya. Jika benar tujuannya untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat, kenapa harus bayar jutaan? dan mempromosikan bisnis sendiri ? Kenapa tidak membuat video-video di youtube, atau seminar di kampus-kampus yang relatif murah atau bahkan gratis ? Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, bagaimana mungkin orang tersebut bisa serius melakukan trading, jika setiap harinya sibuk ‘ngurusin promosi saham’ ke masyarakat (a.k.a cari client) ?

Secara jujur saya lebih hormat, kepada orang-orang yang memberikan rekomendasi tapi tidak mengkomersialkannya. Mengapa? Ya, karena mereka sudah merasa cukup mendapatkan ‘hasil’ dari penerapan ilmu mereka di pasar, sehingga tidak perlu lagi membuat program rekomendasi atau pelatihan.

 

Mindset

Semua vs Sebagian

Artikel saya kali ini membahas mengenai ‘greed’ atau keserakahan, sebagai manusia tentu semua orang mempunyai sifat serakah, ya benar, ingin menguasai atau mendapatkan segala sesuatu melebihi dari yang diperlukan, bahkan kalau perlu jangan ada yang disisakan.

Tidak melulu soal uang dan harta, soal makanan pun kadang sebagian dari kita sering bersifat serakah, yaitu makan melampaui batas kemampuan tubuh kita untuk mencerana, akibatnya terjadi penumpukan lemak dalam tubuh (a.k.a obesitas) dan gula (a.k.a diabetes).

Segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, hal ini berlaku juga dalam dunia per-saham-an. Melihat saham yang harganya naik tentu memunculkan sifat greed kita, yaitu ingin menjual saham tersebut di puncak tertinggi, agar profit yang kita dapatkan semakin besar. Atau ketika saham turun, kita membeli saham tersebut benar – benar saat jatuh atau saat di bottom (sideways) agar profit didapatkan besar.

Permasalahannya adalah kita tidak akan pernah tahu apakah suatu harga saham telah mencapai puncak tertinggi atau lembah terdalam, dan untuk masuk atau keluar dari saham pada saat “itu” membutuhkan pertaruhan ‘floating gain’ yang telah didapatkan atau ‘potensial profit’ yang seharusnya bisa didapatkan dari saham lain.

Seringkali kita mengalami untung menjadi rugi, karena ‘ngotot’ menjual di harga tertinggi. Ya semua itu karena sifat ‘greed’ yang membuat kita mengabaikan semua trading plan yang telah dibuat, mengabaikan intuisi kita.

Alangkah bijaksananya jika kita dapat berpuas diri dengan sebagian profit atau profit yang optimal (bedakan dengan profit maksimal). Optimal disini adalah suatu ukuran yang menurut kita sudah ‘pantas’, tidak kurang tidak berlebih. Caranya tentu saja dengan menjual saham saat kenaikan saham sudah melambat dan membeli saham (di bottom) saat harga sudah mulai bergerak naik.

 

Mindset

Saham Bagus Tidak Perlu Cut-loss ?

Saya tergelitik untuk menulis artikel ini, setelah membaca jawaban seorang admin grup saham di whatsapp terhadap pertanyaan seorang anggota grup.

Mungkin jawaban tersebut benar pada saat pertanyaan tersebut diajukan, tapi pernyataan “tidak perlu cut loss” itu sangatlah menyesatkan, terlebih jika dikemukakan pada trader yang masih kurang jam terbangnya.

Saham Bagus

Saham bagus itu bersifat subjektif bagi setiap orang, ada yang menilai saham berdasarkan growth, ada yang menilai berdasarkan earning, ada yang menilai berdasarkan laba/profit. Definisi bagus dalam dunia saham tidak ada standar bakunya, tidak heran para ahli pun memiliki berbagai kriteria berbeda dalam menilai saham.

Masalah kedua, bagus disini bisa berubah dengan cepat dalam waktu beberapa bulan, contoh jika terjadi perubahan fundamental atau perusahaan mengalami kerugian dalam jumlah besar.

Sejarah membuktikan, saham yang bagus pada masanya tidak salamanya bagus (karena bisnis bersifat dinamis, dan prospek sektor usaha dapat berubah dengan cepat) ,contoh: BUMI, LPCK, dsb.

Berdasarkan uraian diatas, rasanya tidak benar jika perusahaan bagus tidak perlu melakukan cut-loss. Tanpa memasang cut-loss, jika besok hari perusahaan tersebut terkena kasus hukum lalu saham turun drastis > 20%, apa tidak pusing ? (Contoh AISA, saham favorit sejuta umat dengan fundamental mumpuni, langsung jadi saham buangan begitu terkena kasus hukum) Berapa lama kita perlu recover dari kerugian 20% tersebut ?

Mindset

Tidak Pernah Cut-Loss: Pintar atau Bodoh?

Pernahkah anda menemui seorang trader saham yang mengatakan dirinya tidak pernah melakukan cut-loss? Menarik untuk disimak, apakah tidak pernah cut loss merupakan ciri trader yang smart atau trader yang bodoh.

Dalam trading, sangatlah sulit memprediksi pergerakan harga saham, trader yang memiliki pengalaman puluhan tahun pun seringkali masih saja salah dalam memprediksi pergerakan saham, karena harga saham sangatlah dinamis. Dengan satu berita saja, harga saham yang sudah sesuai keinginan bisa saja berbalik arah.

Dengan kondisi demikian, sudah pasti hampir semua orang pernah melakukan kesalahan, yaitu salah memprediksi harga saham. Jika sudah terjebak masuk ke dalam saham yang salah, hanya terdapat dua pilihan yaitu cut-loss atau hold sampai ke harga berapapun.

Jika seseorang tidak pernah melakukan cutloss berarti dia melakukan hold. Mungkin tindakan hold terlihat sangat heroik, bisa mempertahankan pilihannya apapun yang terjadi. Namun trading saham bukanlah sebuah perjuangan, melainkan hanya bisnis. Jika suatu kondisi merugikan, buat apa kita harus menganggung rugi, lebih baik cepat-cepat saja kita jual. Ibarat seorang pengusaha yang memiliki perusahaan yang setiap tahun meminta ‘upeti’ karena terus merugi, tentu lebih baik perusahaan yang merugi tersebut cepat-cepat dijual ke orang lain daripada terus mengerogoti keuangan pengusaha tersebut.

Mindset

Bolehkah Melakukan Average Down?

Average down atau melakukan pembelian kembali saham-saham yang kita beli dibawah harga rata-rata (average) dari pembelian-pembelian saham sebelumnya, merupakan salah satu teknik yang kerap dilakukan oleh para trader dengan tujuan untuk mengurangi ‘selisih’ harga rata-rata saham yang telah dimiliki dengan harga pasar. Biasanya para pemula dalam dunia saham cenderung terjebak untuk melakukan average down terus menerus dengan jarak harga yang relatif sempit.

Bagi trader, melakukan average down tentu boleh-boleh saja, dengan beberapa syarat:

  1. Mengetahui secara pasti saham apa yang dibeli. Dalam pasar modal, tidak ada yang namanya “harga pasti kembali”, semua saham bisa saja tidak akan pernah kembali ke harga (tertinggi) sebelumnya, karena adanya perubahan prospek bisnis, atau kehilangan market share mereka. Jangan percaya dengan yang namanya blue chips, LQ45, karena itu hanyalah atribut yang diberikan untuk saham-saham tertentu, begitu suatu perusahaan mengalami kerugian/kondisi yang tidak menguntungkan, atribut-atribut itu dapat saja dicabut, dan saham itu pun menjadi saham biasa seperti saham kebanyakan.
  2. Memiliki rencana trading yang jelas. Trader tersebut harus tahu apa yang sedang dia lakukan, tahu sampai sejauh mana dia akan melakukan average down, dan tahu kapan dia harus ‘let it go’ alias cut loss karena harga saham turun terlalu dalam.
  3. Memiliki cadangan dana modal yang mencukupi untuk melakukan average down, tanpa mempengaruhi saham-saham lain.
  4. Berani melakukan cut-loss ketika harga saham turun melewati harga tertentu.

Namun ada prinsip yang juga baik untuk diperhatikan mengenai average down “Untuk apa membuang-buang effort/modal (untuk melakukan average down) dalam saham yang sedang turun.” Tentu akan lebih baik untuk mengalokasikan modal untuk saham yang sedang tren naik (average up).