Investasi

Fintech P2P Lending: Gorengan Kolesterol Tinggi

Siapa tidak kenal P2P Lending yang belakangan menjamur di Indonesia. Sekilas terlihat sepertinya prospek menjadi lender (aka pemberi pinjaman) di P2P lending cukup menjanjikan, dengan bunga 12%-20%/tahun hampir sama dengan return ‘trading’ saham untuk level pemula.

Tunggu dulu, apa yang di promosikan (aka dijanjikan) oleh situs layanan P2P Lending, belum tentu seindah kenyataannya.

Secara garis besar P2P lending di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu

  • P2P Lending pembiayaan korporasi seperti Investree, Akseleran, dan Modalku
  • P2P Lending pembiayaan usaha kecil menengah seperti Amartha, Gandeng Tangan
  • P2P Lending kredit konsumtif seperti AsetKu, Uangme, dan EasyCash
  • P2P Lending pembiayaan usaha pertanian seperti iGrow, TaniFund, Crowde

Kebanyakan dari layanan P2P lending membanggakan diri dengan ijin OJK, dan memberi kesan kepada calon investor bahwa seolah-olah jika sudah terdaftar di OJK maka bisnis tersebut 100% aman.

Disinilah letak permasalahannya, seperti kita tahu ada beberapa resiko yang mengintai dalam investasi P2P lending ini, yaitu

  • Resiko gagal bayar oleh peminjam (atau gagal panen jika terkait industri pertanian).
  • Resiko peminjam kabur (ngemplang pembayaran)
  • Resiko credit scoring asal-asalan, sehingga tidak memberikan informasi ‘rating’ yang benar kepada investor.
  • Resiko manajemen layanan P2P tidak capable atau menyalahgunakan dana nasabah. Contoh: Angon
  • Resiko wanprestasi layanan P2P. Manajemen P2P secara sepihak me-revisi perjanjian yang telah dibuat dengan pemberi pinjaman. Contoh: GT mengingkari jaminan modal dengan dalih peraturan OJK mengharuskan mereka berbuat demikian, padahal seharusnya perjanjian yang telah dibuat harus tetap berlaku, jika tidak ada revisi (isi perjanjian).

Jika kita hitung-hitung maka resiko yang ditanggung oleh investor adalah kehilangan modal 100%, ya benar 100%. Lebih besar dari sekedar main saham gorengan, worst case hilang 50% (atau jika sedikit keras kepala sekitar ~ 90%).

Melihat dari sisi resiko tentu, investasi P2P lending bukan investasi yang menjanjikan karena resiko yang ditanggung teralu besar, tidak sebanding dengan return yang dijanjikan. Contoh jika anda meminjamkan uang sebesar 1jt dengan bunga 12% selama 3 bulan, maka kira – kira anda akan mendapatkan return sebesar 30ribu setelah 3 bulan, namun dengan resiko kehilangan 100%. Masih mending trading saham gorengan toh, potensi profit 25%, potensi rugi 25%.

Lalu bagaimana kita dapat meminimalisir resiko dalam investasi P2P lending? Terus terang hal tersebut sangat sulit karena kita sepenuhnya bergantung pada penyedia layanan P2P lending. Oleh karena itu sering-seringlah bertanya pada rekan atau kawan yang sudah terlebih dahulu nyemplung di investasi P2P lending.

Berikut adalah bukti nyata, resiko terburuk yang mungkin anda alami dalam berinvestasi di P2P lending.

Penangganan pinjaman gagal bayar oleh MDKU, sudah 2 tahun masih muter-muter hal yang sama.
Peminjam kabur tanpa berita, dibiarkan menggantung oleh GT tanpa kejelasan.
Pinjaman/Invetasi dengan return +/-1%/bulan tapi sudah lewat hampir setahun di CWDE, tanpa kabar berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *