Mindset

Jago Kasih Rekomendasi Kok Masih Nyales?

Pernahkah anda menemui seseorang yang tampaknya fasih memberikan rekomendasi saham, dan tampak mengetahui luar dalam mengenai bursa saham dan sering meng-klaim keberhasilannya dalam menebak (aka menerka) pergerakan harga saham secara tepat? Menarik sekali memang jika orang tersebut sangat “ahli” dalam bursa saham, namun seringkali orang tersebut kemudian menjual atau menawarkan paket rekomendasi secara berbayar atau paling tidak menawarkan pembukaan rekening saham di sekuritas tertentu (sales sekuritas)

Atau ada tipe lain yaitu, orang yang menawarkan untuk mengelola uang anda untuk di tradingkan di bursa saham dengan iming-iming return tertentu. Populasi yang seperti ini lebih banyak, dan bukan hanya di bursa saham, banyak perusahaan Futures merekrut anak-anak muda untuk menjadi ‘sales’ model begini dengan modal ilmu yang masih pas-pasan. Tidak percaya? Coba saja bergabung ke grup saham di WA atau Line, pasti ada saja yang mencoba menawarkan trading emas, dan berbagai komoditi lain.

Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, jika memang mereka benar-benar mampu dan ahli melakukan trading, kenapa mereka masih harus ‘nyales’ atau jualan jasa mereka? Bukankah jika mereka sudah dapat menerka dengan akurasi 80% saja, mereka sudah dapat melipat gandakan kekayaannya.

Dalam hitungan sederhana jika modal sebesar 1 juta, dan mereka bisa mendapatkan keuntungan sebesar 100% setiap kali tradingnya, hasil yang didapat adalah 1024 x modal. Mungkin jika gain 100% teralu sulit, kita bisa coba hitung gain 25% dalam 24x (satu bulan) trading, menghasilkan  sekitar 211 x modal.

Bukankah dengan perhitungan kasar tersebut, sudah layak mereka untuk santai-santai di resort Maldives, sambil melakukan trading melalui handphone  dengan santainya. So, kenapa harus cari client lagi ? (Apalagi sampai harus spamming di forum dan grup saham)

Itulah pertanyaan logis, yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya, mungkin jika pembaca ada yang mengetahui jawaban dari pertanyaan terebut, boleh posting komentar dibawah.

Dulu, saya pernah menemukan jawaban terhadap pertanyan¬† tersebut di sebuah forum, kurang lebih sebagai berikut “jika ilmu (trading) disebarkan maka akan semakin banyak orang yang menggunakannya dan ilmu tersebut menjadi self-fulfillment”. Menarik, tapi kok rasanya aneh ya, benar jika ilmu disebarkan tentu menjadi semakin bermanfaat. Tapi dalam trading, rasanya tidak ada yang mau buka kartu bagaimana mereka membuat sistem trading. Penulis buku pun, pasti akan menyembunyikan detil dari sistem mereka, karena jika semua bisa mereplikasi sistem trading mereka, maka akan menjadi bumerang bagi pembuat sistem trading tersebut (bisa dikerjain oleh bandar).

Atau jawaban yang lebih “mulia”, yaitu untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat Indonesia. Terus terang jawaban ini lebih masuk akal, tapi rasanya agak aneh bagi saya. Jika benar tujuannya untuk memperkenalkan saham kepada masyarakat, kenapa harus bayar jutaan? dan mempromosikan bisnis sendiri ? Kenapa tidak membuat video-video di youtube, atau seminar di kampus-kampus yang relatif murah atau bahkan gratis ? Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, bagaimana mungkin orang tersebut bisa serius melakukan trading, jika setiap harinya sibuk ‘ngurusin promosi saham’ ke masyarakat (a.k.a cari client) ?

Secara jujur saya lebih hormat, kepada orang-orang yang memberikan rekomendasi tapi tidak mengkomersialkannya. Mengapa? Ya, karena mereka sudah merasa cukup mendapatkan ‘hasil’ dari penerapan ilmu mereka di pasar, sehingga tidak perlu lagi membuat program rekomendasi atau pelatihan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *