Mindset

Bolehkah Melakukan Average Down?

Average down atau melakukan pembelian kembali saham-saham yang kita beli dibawah harga rata-rata (average) dari pembelian-pembelian saham sebelumnya, merupakan salah satu teknik yang kerap dilakukan oleh para trader dengan tujuan untuk mengurangi ‘selisih’ harga rata-rata saham yang telah dimiliki dengan harga pasar. Biasanya para pemula dalam dunia saham cenderung terjebak untuk melakukan average down terus menerus dengan jarak harga yang relatif sempit.

Bagi trader, melakukan average down tentu boleh-boleh saja, dengan beberapa syarat:

  1. Mengetahui secara pasti saham apa yang dibeli. Dalam pasar modal, tidak ada yang namanya “harga pasti kembali”, semua saham bisa saja tidak akan pernah kembali ke harga (tertinggi) sebelumnya, karena adanya perubahan prospek bisnis, atau kehilangan market share mereka. Jangan percaya dengan yang namanya blue chips, LQ45, karena itu hanyalah atribut yang diberikan untuk saham-saham tertentu, begitu suatu perusahaan mengalami kerugian/kondisi yang tidak menguntungkan, atribut-atribut itu dapat saja dicabut, dan saham itu pun menjadi saham biasa seperti saham kebanyakan.
  2. Memiliki rencana trading yang jelas. Trader tersebut harus tahu apa yang sedang dia lakukan, tahu sampai sejauh mana dia akan melakukan average down, dan tahu kapan dia harus ‘let it go’ alias cut loss karena harga saham turun terlalu dalam.
  3. Memiliki cadangan dana modal yang mencukupi untuk melakukan average down, tanpa mempengaruhi saham-saham lain.
  4. Berani melakukan cut-loss ketika harga saham turun melewati harga tertentu.

Namun ada prinsip yang juga baik untuk diperhatikan mengenai average down “Untuk apa membuang-buang effort/modal (untuk melakukan average down) dalam saham yang sedang turun.” Tentu akan lebih baik untuk mengalokasikan modal untuk saham yang sedang tren naik (average up).

 

Anomali

Rekomendasi Saham: Prediksi vs Justifikasi

Dalam dunia saham, rekomendasi merupakan salah satu elemen tidak terpisahkan dari kegiatan harian pada trader dan investor. Banyak pihak yang mencoba memberikan rekomendasi saham-saham yang menarik untuk dilirik, mulai dari yang undervalue, IPO, menembus resistance, kenaikan volume dan sebagainya. Namun yang menjadi masalah, tidak semua rekomendasi layak untuk diikuti karena pada kenyataannya semua orang dapat saja membuat rekomendasi, mulai dari yang menggunakan feeling analysis (aka insting), technical analysis atau bahkan fundamental analysis.

Telepas dari itu semua, kita dapat mengolongkan pemberi rekomendasi menjadi 2 yaitu prediksi dan justifikasi.

Tipe prediksi umumnya berani mengemukakan pendapatnya diawal sebelum terjadinya kenaikan/penurunan harga, terlepas dari salah atau bedar prediksinya dikemudian hari. Inilah tipe yang perlu kita ikuti rekomendasinya (tentunya dengan memperhatikan track record prediksi-prediksi sebelumnya).

Yang paling celaka adalah pemberi rekomendasi dengan tipe justifikasi, yaitu hanya memberikan pendapatnya setelah terjadinya kenaikan/penurunan harga, dengan berbagai alasan dan analisa yang rumit, sehingga terlihat hebat dan sudah dapat memprediksi kejadian tersebut (padahal sebelum terjadi, biasanya tidak ada rekomendasi/pendapat apa-apa yang diberikan).

Sebenernya, ada tipe ke tiga yang juga cukup kurang ajar, yaitu gabungan prediksi dan justifikasi, yang umumnya memberikan prediksi diawal, kemudian saat kondisi tidak sesuai prediksi, langsung berkoar-koar dengan memberikan justifikasi-justifikasi dengan saran untuk melakukan cut loss atau bahkan kabur tanpa jelas (rekomendasi yang salah tersebut tidak lagi disebut-sebut). Juga termasuk dalam tipe ini adalah pemberi rekomendasi yang menganut aliran ilmu tertentu (contoh foreign flow), ketika kondisi pasar tidak sesuai dengan kitab suci aliran foreign flow (pergerakan transaksi asing tidak berkorelasi dengan pergerakan harga), mereka diam seribu bahasa seolah tidak tahu apa-apa, namun ketika kondisi pasar sesuai dengan kitab sucinya maka mereka berkoar-koar seolah paling jago dalam menebak pergerakan harga.

Demikian tipe-tipe pemberi rekomendasi yang kerap kita jumpai di berbagai forum dan grup saham.

Konsep

Trader vs Investor

Post saya kali ini akan membahas dua istilah yang sering banget disebut-sebut dalam jagat raya saham yaitu Trader & Investor.

Trader kalo ditelisik dari arti katanya dalam bahasa Indonesia kurang lebih dapat diartikan sebagai pedagang, yap orang yang berusaha membeli barang dan kemudian untuk dijual kembali dengan harapan mendapatkan keuntungan dari selisih harga pembelian dan penjualan. Konsep yang sama juga berlaku dalam dunia saham, trader adalah golongan orang-orang yang kerap kali melakukan aktivitas jual beli saham dengan harapan mendapatkan keuntungan. Trader dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

  • one day trader (aka intraday trader), yaitu orang-orang yang melakukan jual beli saham di hari yang sama, biasanya beli di pagi hari kemudian dijual kembali menjelang bursa tutup. Biasanya trader tipe ini paling anti jika harus menginapkan saham, karena akan menambah resiko (kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi saat bursa tutup).
  • short term trader, adalah trader yang melakukan transaksi jual beli untuk periode lebih yang lebih lama dari one day trader, bisa satu hari atau beberapa hari.
  • medium term trader, atau dikenal dengan istilah position trader/swing trader, biasanya melakukan jual beli saham dalam periode beberapa hari sampai dengan mingguan, tergantung apakah target harga (TP) saham telah dicapai atau belum.
  • long term trader, sering kali disalahartikan sebagai investor, meskipun sebenarnya keduanya sangat berbeda. Kembali ke motif trading saham, yaitu memperoleh keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli, long term trader tetap memiliki motif untuk memperoleh keuntungan (tanpa memperdulikan adanya deviden dari saham). Hal ini sangat berbeda dengan investor, yang tidak begitu memperdulikan kenaikan atau fluktuasi harga saham, namun hanya memperhatikan besaran deviden saham yang dibagikan setiap tahunnya.